TANJUNGPINANG – Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Kepulauan Riau melaksanakan rukyatul hilal untuk penentuan awal 1 Syawal 1447 Hijriah, Kamis (19/3/2026).
Kegiatan ini berlangsung di Pantai Setumu, Dompak, Tanjungpinang, sebagai bagian dari pemantauan serentak di 117 titik di seluruh Indonesia.
Pelaksanaan rukyatul hilal di Kepri melibatkan sejumlah pihak, antara lain BMKG Tanjungpinang-Bintan, Majelis Ulama Indonesia (MUI), organisasi masyarakat seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, akademisi, serta tim rukyat dari Kanwil Kemenag Kepri.
Kepala BMKG Tanjungpinang-Bintan, Ahmad Kosasih, menyampaikan bahwa proses pemantauan berjalan dengan baik didukung kondisi cuaca yang relatif cerah. Namun, berdasarkan hasil pengamatan, posisi hilal di wilayah Kepri masih belum memenuhi kriteria yang ditetapkan.
“Ketinggian hilal tercatat sekitar 2,5 derajat dengan elongasi 4,3 derajat. Artinya, masih belum mencapai batas minimal 3 derajat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berbeda dengan wilayah Aceh yang telah memenuhi kriteria dengan ketinggian hilal mencapai 3,13 derajat. Meski demikian, secara perhitungan umur bulan di wilayah Kepri sebenarnya sudah mendekati syarat.
“Umur bulan di sini sudah 9 jam 49 menit. Secara teori, keesokan harinya sudah bisa mencapai 3 derajat,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Kepri, Dr. H. Zoztafia, mengatakan bahwa Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada 20 Maret 2026. Sedangkan pemerintah melalui Kementerian Agama RI masih menunggu hasil sidang isbat yang akan diumumkan pada pukul 19.25 WIB.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk menyikapi kemungkinan adanya perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri dengan bijak.
“Perbedaan metode penentuan, baik melalui hisab maupun rukyat, merupakan hal yang biasa. Kami berharap masyarakat dapat saling menghormati,” katanya.
Zoztafia turut mengapresiasi umat Islam di Kepri yang tetap menjaga kerukunan selama bulan Ramadan meskipun terdapat perbedaan dalam penentuan awal puasa.
“Perbedaan di awal maupun di akhir ibadah merupakan hal yang wajar dan sejauh ini tidak menimbulkan perpecahan. Ini menunjukkan kedewasaan masyarakat dalam beragama,” tutupnya.
Di sisi lain, Kementerian Agama RI masih melaksanakan siaran pers untuk menetapkan secara resmi awal 1 Syawal 1447 Hijriah yang dinantikan umat Islam di seluruh Indonesia.
![]()





