Sambut Tahun Ajaran Baru, Disdikbud Singkawang Instruksikan MPLS Humanis dan Bebas Perundungan

SINGKAWANG – Memasuki tahun ajaran baru 2026/2027, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Singkawang mengambil langkah tegas untuk memastikan lingkungan sekolah yang aman dan inklusif. Kepala Disdikbud Kota Singkawang, H. Asmadi, S.Pd., M.Si., menginstruksikan seluruh kepala sekolah dan guru untuk menciptakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang humanis.

Dalam arahannya pada Senin (13/7/2026), Asmadi menekankan bahwa hari pertama sekolah merupakan momen krusial yang akan terus diingat oleh anak sepanjang hayatnya. Oleh karena itu, membangun kesan pertama yang positif dan membahagiakan bagi siswa baru menjadi hal yang wajib dilakukan.

“Sambut siswa baru dengan kehangatan. Kesan pertama di sekolah akan melekat sepanjang hayat mereka,” ujar Asmadi.

4 Poin Utama Pelaksanaan MPLS di Kota Singkawang

Guna memastikan pelaksanaan MPLS berjalan sesuai koridor pedoman pendidikan, Kadisdikbud Kota Singkawang menegaskan empat instruksi utama yang wajib dipatuhi oleh seluruh satuan pendidikan:

  • Edukatif dan Bermartabat: MPLS harus diisi dengan kegiatan yang mendidik serta menghormati martabat siswa sebagai generasi penerus. Proses penyambutan wajib dilakukan dengan senyuman dan kasih sayang.

  • Sekolah sebagai Rumah Kedua: Setiap satuan pendidikan harus mampu mentransformasikan diri menjadi “rumah kedua” bagi siswa—kondisinya bersih, rapi, indah, serta kental dengan nuansa kekeluargaan yang demokratis.

  • Mendidik dengan Ketulusan: Guru dan tenaga kependidikan diminta untuk membimbing siswa dengan ketulusan dan perhatian penuh, bukan dengan tekanan atau menciptakan rasa takut.

  • Zero Toleransi Pelanggaran: Sekolah wajib bersih dan steril dari segala bentuk perundungan (bullying), tindak kekerasan, intoleransi, hingga praktik pungutan liar (pungli).

Fokus pada Pembentukan Karakter dan Budaya Positif

Lebih lanjut, Asmadi berharap MPLS tahun ini dapat menjadi fondasi yang kuat dalam membentuk karakter siswa sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap mutu pendidikan di Kota Singkawang.

Bagi Disdikbud Singkawang, keberhasilan pendidikan tidak melulu diukur dari pencapaian akademik semata, melainkan bagaimana sekolah mampu menciptakan ekosistem belajar yang inklusif dan membahagiakan bagi anak didik.

Menutup arahannya, pihak Disdikbud mengajak seluruh elemen—mulai dari guru, orang tua, hingga masyarakat luas—untuk saling bersinergi dalam membangun budaya sekolah yang positif. Kolaborasi ini dinilai krusial demi mencetak generasi muda yang cerdas, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

HS

Loading

About Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *