Ketua MMBB DPC Singkawang Febrianto Lumes Dorong Kolaborasi Kolektif Penanganan Darurat Karhutla di Kalimantan

Singkawang, 21 Agustus 2026 – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Mangkok Merah Borneo Bersatu Kota Singkawang secara resmi merilis pernyataan sikap terkait melonjaknya eskalasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta bencana kabut asap yang kian memprihatinkan di wilayah Kota Singkawang dan sekitarnya.

Pernyataan yang disampaikan langsung oleh Ketua DPC Mangkok Merah Borneo Bersatu Kota Singkawang, Febrianto Lumes, menyoroti ancaman serius terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat Kalimantan Barat.

“Kondisi udara di wilayah Kota Singkawang dan sekitarnya saat ini sudah berada pada tingkat yang membahayakan kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak, lansia, dan kelompok rentan,” tegas Febrianto Lumes. Ia menambahkan bahwa kabut asap tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga berpotensi memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Dalam rilis resminya, organisasi kemasyarakatan tersebut menyampaikan empat poin utama tanggap darurat bencana:

  • Keprihatinan atas Bencana Udara: Menilai penurunan kualitas udara di Kalimantan Barat sebagai ancaman nyata terhadap keselamatan dan kualitas hidup masyarakat, khususnya yang berada di dekat area kebakaran yang sangat terdampak oleh kabut asap.

  • Penegakan Hukum Tanpa Pandang Bulu: Mendesak aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap oknum perorangan maupun korporasi yang sengaja membakar lahan, serta mengkategorikan tindakan tersebut sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan dan lingkungan.

  • Sinergi dan Kolaborasi Lintas Sektor: Mengajak Pemerintah Daerah, Satgas Karhutla, sektor swasta, hingga tokoh adat untuk bahu-membahu. Pemerintah diimbau mengoptimalkan pemadaman darat dan udara (water bombing) serta pembagian masker secara masif. Sementara pihak perusahaan diminta menghentikan metode pembakaran lahan dan menyiagakan sarana pemadam di area konsesi.

  • Kesiapan Aksi Nyata Organisasi: Menyiagakan jajaran relawan Mangkok Merah Borneo Bersatu untuk turun ke lapangan membantu pemadaman titik api, menyalurkan bantuan medis dasar, dan mengawal kebijakan pemulihan lingkungan.

“Udara bersih adalah hak dasar setiap manusia. Menjaga tanah Borneo dari api adalah kewajiban adat dan moral kita bersama. Mari bergandengan tangan hentikan asap sebelum membawa duka yang lebih dalam bagi generasi kita,” tutup Febrianto.

HENDRA SAHAT S.Kom

Loading

About Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *