​HUT ke-10 PBRTB dan ke-1 MMBB di Landak: Perkuat Persatuan dan Komitmen Bela Hak Masyarakat Adat

LANDAK — Suasana khidmat dan penuh kebersamaan menyelimuti Desa Semade, Kecamatan Banyuke Hulu, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, pada Jumat malam (23/10/2026). Masyarakat tumpah ruah menghadiri perhelatan akbar peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-10 Perguruan Budaya Ritual Tambak Baya (PBRTB) dan HUT ke-1 Mangkok Merah Borneo Bersatu (MMBB).

​Mengusung tema besar “Merawat Api Tradisi Budaya Agar Tidak Padam Dihempas Badai Jaman Modern” serta motto “Dayak Bersatu, Dayak Cerdas, Dayak Maju, Dayak Bermartabat,” acara ini menjadi momentum konsolidasi kebudayaan sekaligus penguatan persatuan masyarakat adat di Tanah Borneo.

​Hadir langsung dalam perhelatan tersebut Bupati Landak dr. Karolin Margret Natasa, M.H. beserta suami Andreas Quin, jajaran Forkopimcam Banyuke Hulu, Dewan Pembina Panglima Tertinggi MMBB, Dewan Penasehat DPP MMBB Limen Ak Lingai, Panglima Tertinggi MMBB sekaligus Panglima Tambak Baya Marselinus Mian, S.E., M.M., serta Presiden MMBB Deseniman Sanggup, S.H.

​Turut hadir pula pimpinan dan anggota PBRTB dari berbagai wilayah di Tanah Borneo, jajaran pengurus DPD, DPC, dan DPAC MMBB, perwakilan DPD MMBB Kuching (Malaysia), Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Landak, Bengkayang, dan Singkawang, serta para tokoh agama, tokoh adat, pemuda, dan masyarakat umum.

​Rangkaian Prosesi Adat dan Seni Budaya

​Acara diawali dengan upacara adat Belusu—ritual tradisional Dayak Belusu Kalimantan Utara—yang dipimpin oleh Yatong Ipang selaku Ketua Umum PBRTB Kaltara sekaligus Pembina MMBB Kaltara. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan tarian penyambutan oleh Sanggar Tambak Baya, pemasangan syal kehormatan, serta pemotongan bambu.

​Sepanjang acara, para tamu disuguhkan dengan berbagai atraksi seni dan budaya bernilai tinggi, di antaranya Tarian Jubata, atraksi sakral Tambak Baya oleh Marselinus Mian, Tarian Pantak, pertunjukan seni bela diri, hingga alunan musik tradisional Sapek dan suling bambu pengiring magis tari Mandau.

​Peluncuran Buku Biografi dan Penguatan Hukum Masyarakat Adat

​Salah satu agenda penting dalam perayaan ini adalah peluncuran buku biografi kebudayaan dan perjuangan kultural karya Marselinus Mian, S.E., M.M. Buku tersebut secara resmi diserahkan kepada perwakilan Penerbit Kinerja Group Jakarta, Jagad N, serta kepada Bupati Landak sebagai bentuk dokumentasi sejarah dan perjuangan masyarakat adat. Dalam kesempatan yang sama, Bupati Landak turut menyerahkan piagam penghargaan kepada Ketua PBRTB.

Mangkok Merah Borneo Bersatu
Mangkok Merah Borneo Bersatu

​Dalam sambutannya, Presiden MMBB Deseniman Sanggup, S.H., mengajak seluruh kader untuk merefleksikan perjalanan satu dekade PBRTB dan tahun pertama MMBB. Ia menekankan bahwa simbol Mangkok Merah harus menjadi landasan moral untuk merajut persaudaraan dan mengedepankan musyawarah.

​Sebagai bentuk komitmen nyata dalam memberikan perlindungan hukum bagi masyarakat, Deseniman Sanggup juga mengumumkan pembentukan Lembaga Bantuan Hukum (LBH MMBB) yang didukung oleh 40 pengacara dan paralegal. LBH ini dipersiapkan untuk mendampingi serta menyelesaikan berbagai persoalan hukum, baik pidana, perdata, maupun tata negara yang dihadapi warga.

​Tiga Pilar Gerakan MMBB

​Sementara itu, Panglima Tertinggi MMBB sekaligus Panglima Tambak Baya, Marselinus Mian, S.E., M.M., menegaskan tiga pilar utama arah gerakan organisasi ke depan:

  1. ​Merangkul Tanpa Batas: Mempersatukan seluruh sub-suku Dayak di Tanah Borneo tanpa memandang perbedaan latar belakang agama maupun sosial.
  2. ​Peningkatan Kualitas SDM: Mendorong generasi muda Dayak agar aktif meningkatkan kapasitas diri melalui pendidikan dan keterampilan guna menghadapi tantangan era modern.
  3. ​Pembelaan Hak Masyarakat Adat: Konsisten menyuarakan keadilan bagi masyarakat lokal, termasuk memperjuangkan ruang hidup yang layak bagi para petani peladang tradisional di tanah leluhur mereka.

​Menutup rangkaian acara, Bupati Landak dr. Karolin Margret Natasa, M.H., yang juga bertindak sebagai Dewan Pembina MMBB, menyampaikan arahan penting mengenai pentingnya sinergi antara masyarakat adat dan pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas serta kelestarian budaya lokal.

​Perayaan ditutup dengan prosesi pemotongan kue ulang tahun, doa bersama, serta sesi ramah tamah yang diwarnai gelaran seni pentas budaya Borneo, meninggalkan kesan mendalam tentang semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap warisan leluhur.

​“Salam Budaya, Salam Mangkok Merah Borneo Bersatu, Bersatu, Bersatu, Bersatu!”

HENDRA SAHAT S. Kom

Loading

About Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *